Assalamu'alaikum sahabat blogger ^-^
Saya ingin berbagi cerita tentang menghadapi pertengkaran pada anak.
Suatu hari pada hari Jum'at, hari ini adalah waktunya anak- anak SD kegiatan bersama.
Sebelum kegiatan bersama di mulai, anak- anak berkumpul di lapangan untuk mengikuti senam pagi.
Anak- anak pun sudah berkumpul semua dan senam dimulai.
panas pagi mulai menyengat mereka, tiba - tiba ada anak yg bilang, "bu panas". Saya berkata " panas pagi sehat nak"
lalu mereka melanjutkan kembali untuk senam.
Lagu senam berganti, di lagu senam ini ada gerakan yg harus berkelompok berpegangan tangan lalu melakukan gerakan memutar.
Pada saat gerakan ini berlangsung, saya melihat ada satu orang anak perempuan yang tidak di ajak gabung oleh anak perempuan lainnya, lalu ia sedih dan raut wajahnya ingin menangis.
Saya mendekati mereka dan bertanya kenapa dia tidak diajak ?
Ada yg bilang " tangan saya di tarik bu jadi saya tidak bisa ajak dia, ada juga yang bilang saya tidak mau sama dia bu".
Banyak sekali alasan mereka.
Lalu saya di bantu dengan fasilitator lainnya menasehati mereka " bagaimana perasaan kalian, kalau kalian jadi dia ?
Mereka menjawab " tidak enak bu"
Nah itu kalian tahu tetapi kenapa kalian melakukan itu ?
di sini semuanya sama tidak ada yg di beda- bedakan.
Kalian semua harus saling me yayangi.
Sekarang minta maaf yaa ke dia dan kalian harus selalu main bersama - sama.
" Siapa yg tidak saling menyayangi maka tidak akan di sayangi".
Jumat, 29 September 2017
Menanggapi pertengkaran anak
Jumat, 22 September 2017
Menghadapi pertengkaran anak
Psycho Coffee for Tuesday
Oleh : Ani Ch, penulis dan pemerhati pendidikan keluarga
FAQ Edition, 19 Sept 2017
Bagaimana Menangangi Anak-anak yang Sedang Bertengkar?
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Hal pertama yang biasa kita lakukan, secara spontan adalah melerainya, menyuruh mereka diam, menjauhkan satu sama lain agar tidak saling menyerang, atau langsung meminta yang bertengkar untuk saling memaafkan.
Apa yang terjadi pada anak-anak ini di kemudian hari? Saya menyaksikan di atas kertas...ketika melakukan analisis kepribadian psikotes, yang sudah ribuan orang jumlahnya..
Ada banyak sekali orang memiliki pola sikap menjauhi konflik, dengan beberapa alasan, misalnya karena tidak berani berkonflik, karena tidak suka repot, karena takut sakit hati, atau karena ingin cari 'aman'. Padahal, fenomena ini agak bertentangan, dengan kebutuhan SDM. Yang dibutuhkan seringkali adalah orang yang berani menghadapi konflik, kemudian jadi tidak takut menghadapi risiko, dan akhirnya benturan dengan risiko itu, menjadikan dia piawai menyelesaikan masalah.
Yang suka menghindari masalah dan menjauhi konflik, akhirnya menjelma menjadi pribadi penakut, tidak berani ambil risiko dan _must be left behind_...tidak diambil sebagai SDM unggul yang siap bertempur.
Lalu, apakah tidak boleh melerai anak bertengkar? apa dibiarkan saja? nanti pukul-pukulan...nanti cakar-cakaran..nanti ada barang dibanting, braaak...rusak...hihihi....hancur mina..
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Seingat saya..di masa kecil, saya jarang sekali dilerai ketika bertengkar dengan adik saya. Ibu saya bisa dengan santai memasak di dapur, bapak saya juga tetap tenang menonton televisi ketika ada perang mulut antara saya dan adik. Bahkan jika kami mulai main fisik, hanya ada teguran untuk segera menyelesaikan apa yang kami ributkan. Pernah suatu kali, saya begitu marah pada adik saya yang lari mengunci diri di kamar, dan saya ambil kursi lalu membantingnya ke pintu, dan bapak hanya meminta saya membereskan kursi yang rusak itu, tidak bertanya ada apa, sama sekali tidak mencampuri pertikaian saya dengan adik. Tapi sungguh tidak pernah pertengkaran itu berjalan lama, keesokan harinya, saya dan adik akan berangkat ke sekolah bersama dengan ceria seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Kami bertengkar hanya untuk 'mempertahankan' sesuatu yang kami rasa penting, tidak ada kebencian yang tersisa.
Saat duduk di bangku SD, sepertinya memang saya berkembang menjadi agresif, saya jadi sering 'menang' perang mulut, bahkan saya bisa menantang adu fisik teman cowok, ketika dia melanggar hak saya. Tapi saya tetap punya banyak teman, pada akhirnya semua tahu, saya hanya 'ekspresif', tapi tidak pernah membenci, tetap baik dan suka membantu siapa saja. Bagi saya konflik harus diselesaikan, saya tidak akan mengalah pada seseorang jika saya merasa benar, hanya demi takut untuk bertengkar. Setelah saya sampaikan pembelaan hak saya, ya sudah selesai, mari berteman baik lagi.
Saat SMP, seingat saya sudah tidak ada pertengkaran antara saya dan adik, sudah ganti _style team working_, melakukan banyak hal bersama, selain mungkin karena sudah kenyang bertengkar di waktu kecil, hehehe.
Ketika saya SMA, bakat adu mulut itu tersalurkan dengan cantik lewat kegemaran mengikuti _debate contest_ dan pertengkaran dengan adik saya hampir tidak ada, karena masing-masing sibuk dengan urusan sekokah, hobi, dan pertemanan di luar rumah. Rumah adalah tempat istirahat dan berbagi bersama keluarga.
Saat saya bekerja, saya bahkan bisa menggebrak meja atasan saya karena diminta melakukan sesuatu yang tidak.sesuai dengan idealisme saya. Tapi keesokan paginya, saya bisa tenang menghadap dan bertanya, "ada hal lain yang bisa saya kerjakan, selain yang kemarin". Saya juga bisa berseru dengan keras pada staf saya di kantor pada pagi hari karena dia bekerja tidak tepat, tapi bisa mengelus kepalanya di sore hari ketika sudah memperbaiki kesalahannya.
Manusia dasarnya adalah membuat kerusakan di muka bumi, tapi manusia juga yang memakmurkan bumi. Manusia yang suka membuat konflik di bumi, adalah manusia yang juga membangun peradaban di bumi ini. Haruskah kita *membunuh* hasrat untuk berkonflik dengan menghentikan pertengkaran anak yang sejatinya adalah media belajar, bukankah kita hanya perlu mengawal proses belajar mereka.
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
Dengan ini, saya ingin mengajak orangtua untuk tidak mencampuri konflik antar anak, tidak melerai anak saat bertengkar, selama *tidak ada keselamatan nyawa yang terancam*. Jika salah satu sudah angkat pisau atau gunting, ya tentu saja segera ambil tindakan.
Biarkan anak-anak kita berkonflik. Anak-anak kita butuh kesempatan untuk menyelesaikan konflik, agar piawai menghadapi konflik hidup di kemudian hari. Anak-anak bahkan butuh latihan *mempertahankan hak juga idealismenya*, agar ketika besar bisa mempertahankan idealisme di pusaran arus lingkungan yang begitu kuat pengaruhnya. Apa salahnya kita berkorban telinga kita risih, ketenangan kita terganggu, atau bahkan beberapa barang jadi rusak, tapi kita memfasilitasi terbentuknya kemampuan mengelola konflik anak kita.
Tapi bu ani, saya tidak suka anak bertengkar, mereka nanti jadi kasar, suka berkata kotor..Iya saya paham kekhawatiran itu, maka jalankan pendidikan iman..saat anak sudah tenang, saat konflik sudah selesai, ajak duduk bersama, maknai apa yang sudah terjadi. Mari kita ingatkan anak-anak pada Allah, mari kita ajak menguatkan kembali persaudaraan, aja untuk saling memaafkan. Hal-hal yang tidak kita sukai saat konflik terjadi, bisa kita sampaikan secara terbuk saat anak sudah tenang. _Ayah tidak suka, kami berkata kotor. Bunda tidak suka kamu tidak hormat kakak._Jangan lakukan hal semacam ini *saat anak bertengkar*, lakukan saat mereka *sudah tenang*.
Bu Ani, saya masih takut...nanti anak-anak saya jadi saling membenci antar saudara karena saya biarkan bertengkar. Saya bisa yakinkan, bahwa setiap saudara diberkahi rasa belas kasih di hatinya untuk saudaranya, secara naluriah. Yakinlah tidak ada kebencian antar saudara jika mereka sudah menyelesaikan konflik di antara mereka. Saya menyaksikan, bahwa *saudara saling membenci sebenarnya karena orangtuanya sering tidak berlaku adil di antara anak-anak mereka* Sikap tidak adil orangtua saat merespon kelakuan anak menyulut kebencian antar saudara. Saat anak bertengkar, kemudian orangtua membela si kakak, atau membuat kakak mengalah, tanpa melihat apa masalahnya, inilah bibit terbentuknya kebencian karena anak merasa tidak diperlakukan adil.
Bagaimana...berani coba membiarkan anak bertengkar?
Belum bu ani, ada tidak cara lain membentuk kemampuan menyelesaikan konflik, tanpa membuat mereka berkonflik.
Baiklah..coba saya pikirkan nanti bagaimana caranya, ilmu Allah kan luas, siapa tahu memang ada...ilmu untuk bisa berenang tanpa belajar _nyemplung_di air.
☕▫☕▫☕▫☕▫☕
For further question or feedback please email psychocoffeemorning@gmail.com
Selasa, 29 Agustus 2017
Parenthood
Sabtu, 12 Agustus 2017 Ustd.Ferous Tumbuh kembang : 1. * Motorik kasar * Motorik halus 2. Komunikasi (akhlak) * Aktif * Pasif # Kosa kata ( semua benda ada nama) stimulus komunikasi. #Menjelaskan lemari itu yang ada pintunya, yg tidak ada pintunya itu rak. # Tumbuh kembang pasif mempengaruhi komunikasi aktif 3. Kognitif * Daya tangkap * Ingat * Pikir Kurikulum dibagi 2 1. Kurikulum terstruktur Mtk, ipa 2. Kurikulum tdk terstuktur Mananam, kunjungan. 3. Sosial (akhlak) Kemampuan untuk menyikapi perbedaan. Akademik : mempelajari ilmu yg struktur
di Pakistan kegiatan Menghafal Al - Qur'an & puisi. Kurikulum : track ( satu orang melalui satu track/ satu orang satu pengalaman.