Minggu, 01 Oktober 2017

Muslimah

Kisah Nyata: Memilih Putuskan Pacarnya, Allah Ganti Dengan Kejutan Tak Terduga
October 1, 2017admin

Ini adalah kisah dari mbak @ressanovira, salah satu follower instagram @NikahAsik, yang menceritakan pengalaman pribadinya ketika putus pacaran dan berusaha memperbaiki diri :

Pertengahan tahun 2016, Bulan Juli, menjadi bulan paling berat dalam kisah cinta saya. Bulan dimana saya memutuskan untuk mengakhiri hubungan saya dengan laki-laki yang sudah lama menjadi pacar saya. Saya putus pacaran dengannya setelah hampir 6 tahun bersama. Sudah lama, bahkan terlalu lama, tapi belum ada kepastian apa apa dari dirinya untuk melangkah ke pelaminan…

Akhirnya saya memilih mundur, putus pacaran karena saya semakin risih ditanya keluarga. Juga sebagai wanita, saya butuh kepastian. Namun, sepertinya laki-laki ini belum ada niat untuk menuju ke arah pernikahan meski hubungan kami sudah berlangsung lama.
Sejak saat itu saya memilih untuk sendiri. Sembari terus belajar menjadi lebih baik.

Saya juga bertekad tidak akan pernah mau dekat dengan laki laki kecuali laki laki itu datang pada orang tua saya dan memintaku utk jadi istrinya.

8 bulan berlalu dalam kesendirian. Saya merasa lelah. Sejak putus pacaran, saya mulai berpikir, tidak mungkin ada laki laki yang baru kenal akan langsung datang memintaku menjadi istrinya.

Saya resah, jangan jangan dulu kemauan saya putus pacaran itu salah? Apa saya yang kurang bersabar?

Berkaca dari pengalaman masa lalu saya. Dimana saya yang sudah menjalin hubungan bertahun tahun dan berkomitmen. Tapi nyatanya gagal juga karena tidak adanya keseriusan untuk menikah dari salah satu pihak. Apa mungkin, ada lelaki yang bisa langsung kenal dan serius? Adakah?

Galau, sedih, dan kesepian setiap hari selalu saya rasakan.

Dan selama masa kesendirian itu, saya nggak pernah kelewat buat liat postingan2 di @nikahasik. Setiap baca captionnya dan liat fotonya, perlahan bikin saya sadar : buat apa galau dan sedih, saya kan punya Allah.

Meski tak dipungkiri, kadang saya juga berfikir kalo liat cerita di postingan itu bener gak siih ada… pacaran setelah menikah emangnya ada? Apakah cuma ada di dalam kisah dongeng saja?

Ternyata, skenario Allah memang tak terduga.

Bulan Maret 2017, mungkin bulan yg paling indah saya rasakan. Semua berawal dari salah satu saudara saya. Tiba tiba saudara saya itu menitipkan salam dari seorang laki laki. Lelaki itu adalah sahabat saudara saya dan belum pernah saya temui sebelumnya. Dan lelaki itu bilang, dia mau bertemu dengan saya.

Dengan ditemani saudara, saya bertemu dengan si lelaki. ya, sekali saja kita bertemu saat itu. Saya benar benar tidak mengenalnya dan dia juga tidak mengenal saya. Saya sendiri curiga, sepertinya saudara saya itu mencoba untuk menjodohkan kami 😂

Setelah pertemuan pertama itu, kami tidak bertemu lagi. Namun, tak disangka, seminggu kemudian dia kirim pesan bahwa dia ingin berniat baik untuk menikahi saya.

Saya kaget bukan kepalang! masaa iyaa baru kenal kok mendadak ngajak nikah? Ini Seriusan?

Akhirnya karena tidak percaya, saya tantang dia, saya katakan padanya: datang saja ke rumah bilang sama bapak.

Dan benar, besok hari dia datang ke rumah dan bicara sama bapak saya….ahhhh entah lah perasaan saya saat itu sperti melayang gak percaya nangiiiiss bahagiaa… (oke ini lebay, tapi beneran. Rasanya Masya Allah tak tergambarkan)

Seminggu kemudian dia membawa orang tuanya ke rumah dan menentukan tanggal dan bulan pernikahan.. kita hanya kenal 2 minggu dan sudah menentukan tanggal nikah! Ini kan gila!

Selama satu bulan kami mempersiapkan semuanya. Segala sesuatu yang dibutuhkan untuk acara pernikahan. Dan alhamdulillah, pada tanggal 7 Mei kami melangsungkan pernikahan…

SAH di hadapan keluarga dan penghulu. Sebuah kisah cinta yang resmi secara agama dan negara. Alhamdulillaaaah! Sebuah babak baru kehidupan saya dimulai. Lunas sudah semua kegalauan dan kesedihan saya, tersapu habis oleh sebuah janji suci akad nikah. Saya akan memulai perjalanan saya dari sini. Dengan peran baru, sebagai seorang istri.

Kejutan dariNya rupanya tak berhenti disini. Kabar bahagia datang lagi. Alhamdulillah tak lama setelah menikah, saya langsung dikaruniai kehamilan. Pertengahan Juni, periksa ke bidan, sudah isi 3 minggu. Sampai sekarang, usia kehamilan saya sudah menginjak 7 minggu. Masya Allah…

Hanya butuh 4 bulan dari ketemu lamaran nikah dan sekarang hamil. Singkat. Sama seperti kisah dongeng yang saya idamkan. Alhamdulillah.

Semoga semakin banyak generasi muda yang menyadari bahaya pacaran dan memilih untuk putus pacaran. Jadikan ini trend : putus pacaran, lanjut lamaran! Atau : putus pacaran, sendiri dalam perbaikan!

Berani? [Nikahasik]

Jumat, 29 September 2017

Menanggapi pertengkaran anak

Assalamu'alaikum sahabat blogger ^-^
Saya ingin berbagi cerita tentang menghadapi pertengkaran pada anak.
  Suatu hari pada hari Jum'at, hari ini adalah waktunya anak- anak SD kegiatan bersama.
Sebelum kegiatan bersama di mulai, anak- anak berkumpul di lapangan untuk mengikuti senam pagi.
Anak- anak pun sudah berkumpul semua dan senam dimulai.
panas pagi mulai menyengat mereka, tiba - tiba ada anak yg bilang, "bu panas". Saya berkata " panas pagi sehat nak"
lalu mereka melanjutkan kembali   untuk senam.
Lagu senam berganti, di lagu senam ini ada gerakan yg harus berkelompok berpegangan tangan lalu melakukan gerakan memutar.
Pada saat gerakan ini berlangsung, saya melihat ada satu orang anak perempuan yang tidak di ajak gabung oleh anak perempuan lainnya, lalu ia sedih dan raut wajahnya ingin menangis.
Saya mendekati mereka dan bertanya kenapa dia tidak diajak ?
Ada yg bilang " tangan saya di tarik bu jadi saya tidak bisa ajak dia, ada juga yang bilang saya tidak mau sama dia bu".
Banyak sekali alasan mereka.
Lalu saya di bantu dengan fasilitator lainnya menasehati mereka " bagaimana perasaan kalian, kalau kalian jadi dia ?
Mereka menjawab " tidak enak bu"
Nah itu kalian tahu tetapi kenapa kalian melakukan itu ?
di sini semuanya sama tidak ada yg di beda- bedakan.
Kalian semua harus saling me yayangi.
Sekarang minta maaf yaa ke dia dan kalian harus selalu main bersama - sama.
" Siapa yg tidak saling menyayangi maka tidak akan di sayangi".

Jumat, 22 September 2017

Menghadapi pertengkaran anak

Psycho Coffee for Tuesday

Oleh : Ani Ch, penulis dan pemerhati pendidikan keluarga

FAQ Edition, 19 Sept 2017

Bagaimana Menangangi Anak-anak yang Sedang Bertengkar?

☕▫☕▫☕▫☕▫☕

Hal pertama yang biasa kita lakukan, secara spontan adalah melerainya, menyuruh mereka diam, menjauhkan satu sama lain agar tidak saling menyerang, atau langsung meminta yang bertengkar untuk saling memaafkan.

Apa yang terjadi pada anak-anak ini di kemudian hari? Saya menyaksikan di atas kertas...ketika melakukan analisis kepribadian psikotes, yang sudah ribuan orang jumlahnya..

Ada banyak sekali orang memiliki pola sikap menjauhi konflik, dengan beberapa alasan, misalnya karena tidak berani berkonflik, karena tidak suka repot, karena takut sakit hati, atau karena ingin cari 'aman'. Padahal, fenomena ini agak bertentangan, dengan kebutuhan SDM. Yang dibutuhkan seringkali adalah orang yang berani menghadapi konflik, kemudian jadi tidak takut menghadapi risiko, dan akhirnya benturan dengan risiko itu, menjadikan dia piawai menyelesaikan masalah.

Yang suka menghindari masalah dan menjauhi konflik, akhirnya menjelma menjadi pribadi penakut, tidak berani ambil risiko dan _must be left behind_...tidak diambil sebagai SDM unggul yang siap bertempur.

Lalu, apakah tidak boleh melerai anak bertengkar? apa dibiarkan saja? nanti pukul-pukulan...nanti cakar-cakaran..nanti ada barang dibanting, braaak...rusak...hihihi....hancur mina..

☕▫☕▫☕▫☕▫☕

Seingat saya..di masa kecil, saya jarang sekali dilerai ketika bertengkar dengan adik saya. Ibu saya bisa dengan santai memasak di dapur, bapak saya juga tetap tenang menonton televisi ketika ada perang mulut antara saya dan adik. Bahkan jika kami mulai main fisik, hanya ada teguran untuk segera menyelesaikan apa yang kami ributkan. Pernah suatu kali, saya begitu marah pada adik saya yang lari mengunci diri di kamar, dan saya ambil kursi lalu membantingnya ke pintu, dan bapak hanya meminta saya membereskan kursi yang rusak itu, tidak bertanya ada apa, sama sekali tidak mencampuri pertikaian saya dengan adik. Tapi sungguh tidak pernah pertengkaran itu berjalan lama, keesokan harinya, saya dan adik akan berangkat ke sekolah bersama dengan ceria seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Kami bertengkar hanya untuk 'mempertahankan' sesuatu yang kami rasa penting, tidak ada kebencian yang tersisa.

Saat duduk di bangku SD, sepertinya memang saya berkembang menjadi agresif, saya jadi sering 'menang' perang mulut, bahkan saya bisa menantang adu fisik teman cowok, ketika dia melanggar hak saya. Tapi saya tetap punya banyak teman, pada akhirnya semua tahu, saya hanya 'ekspresif', tapi tidak pernah membenci, tetap baik dan suka membantu siapa saja. Bagi saya konflik harus diselesaikan, saya tidak akan mengalah pada seseorang jika saya merasa benar, hanya demi takut untuk bertengkar. Setelah saya sampaikan pembelaan hak saya, ya sudah selesai, mari berteman baik lagi.

Saat SMP, seingat saya sudah tidak ada pertengkaran antara saya dan adik, sudah ganti _style team working_, melakukan banyak hal bersama, selain mungkin karena sudah kenyang bertengkar di waktu kecil, hehehe.

Ketika saya SMA, bakat adu mulut itu tersalurkan dengan cantik lewat kegemaran mengikuti _debate contest_ dan pertengkaran dengan adik saya hampir tidak ada, karena masing-masing sibuk dengan urusan sekokah, hobi, dan pertemanan di luar rumah. Rumah adalah tempat istirahat dan berbagi bersama keluarga.

Saat saya bekerja, saya bahkan bisa menggebrak meja atasan saya karena diminta melakukan sesuatu yang tidak.sesuai dengan idealisme saya. Tapi keesokan paginya, saya bisa tenang menghadap dan bertanya, "ada hal lain yang bisa saya kerjakan, selain yang kemarin". Saya juga bisa berseru dengan keras pada staf saya di kantor pada pagi hari karena dia bekerja tidak tepat, tapi bisa mengelus kepalanya di sore hari ketika sudah memperbaiki kesalahannya.

Manusia dasarnya adalah membuat kerusakan di muka bumi, tapi manusia juga yang memakmurkan bumi. Manusia yang suka membuat konflik di bumi, adalah manusia yang juga membangun peradaban di bumi ini. Haruskah kita *membunuh* hasrat untuk berkonflik dengan menghentikan pertengkaran anak yang sejatinya adalah media belajar, bukankah kita hanya perlu mengawal proses belajar mereka.

☕▫☕▫☕▫☕▫☕

Dengan ini, saya ingin mengajak orangtua untuk tidak mencampuri konflik antar anak, tidak melerai anak saat bertengkar, selama *tidak ada keselamatan nyawa yang terancam*. Jika salah satu sudah angkat pisau atau gunting, ya tentu saja segera ambil tindakan.

Biarkan anak-anak kita berkonflik. Anak-anak kita butuh kesempatan untuk menyelesaikan konflik, agar piawai menghadapi konflik hidup di kemudian hari. Anak-anak bahkan butuh latihan *mempertahankan hak juga idealismenya*, agar ketika besar bisa mempertahankan idealisme di pusaran arus lingkungan yang begitu kuat pengaruhnya. Apa salahnya kita berkorban telinga kita risih, ketenangan kita terganggu, atau bahkan beberapa barang jadi rusak, tapi kita memfasilitasi terbentuknya kemampuan mengelola konflik anak kita.

Tapi bu ani, saya tidak suka anak bertengkar, mereka nanti jadi kasar, suka berkata kotor..Iya saya paham kekhawatiran itu, maka jalankan pendidikan iman..saat anak sudah tenang, saat konflik sudah selesai, ajak duduk bersama, maknai apa yang sudah terjadi. Mari kita ingatkan anak-anak pada Allah, mari kita ajak menguatkan kembali persaudaraan, aja untuk saling memaafkan. Hal-hal yang tidak kita sukai saat konflik terjadi, bisa kita sampaikan secara terbuk saat anak sudah tenang. _Ayah tidak suka, kami berkata kotor. Bunda tidak suka kamu tidak hormat kakak._Jangan lakukan hal semacam ini *saat anak bertengkar*, lakukan saat mereka *sudah tenang*.

Bu Ani, saya masih takut...nanti anak-anak saya jadi saling membenci antar saudara karena saya biarkan bertengkar. Saya bisa yakinkan, bahwa setiap saudara diberkahi rasa belas kasih di hatinya untuk saudaranya, secara naluriah. Yakinlah tidak ada kebencian antar saudara jika mereka sudah menyelesaikan konflik di antara mereka. Saya menyaksikan, bahwa *saudara saling membenci sebenarnya karena orangtuanya sering tidak berlaku adil di antara anak-anak mereka* Sikap tidak adil orangtua saat merespon kelakuan anak menyulut kebencian antar saudara. Saat anak bertengkar, kemudian orangtua membela si kakak, atau membuat kakak mengalah, tanpa melihat apa masalahnya, inilah bibit terbentuknya kebencian karena anak merasa tidak diperlakukan adil.

Bagaimana...berani coba membiarkan anak bertengkar?

Belum bu ani, ada tidak cara lain membentuk kemampuan menyelesaikan konflik, tanpa membuat mereka berkonflik.

Baiklah..coba saya pikirkan nanti bagaimana caranya, ilmu Allah kan luas, siapa tahu memang ada...ilmu untuk bisa berenang tanpa belajar _nyemplung_di air.

☕▫☕▫☕▫☕▫☕

For further question or feedback please email psychocoffeemorning@gmail.com

Selasa, 29 Agustus 2017

Parenthood

Sabtu, 12 Agustus 2017 Ustd.Ferous Tumbuh kembang : 1. * Motorik kasar * Motorik halus 2. Komunikasi (akhlak) * Aktif * Pasif # Kosa kata ( semua benda ada nama) stimulus komunikasi. #Menjelaskan lemari itu yang ada pintunya, yg tidak ada pintunya itu rak. # Tumbuh kembang pasif mempengaruhi komunikasi aktif 3. Kognitif * Daya tangkap * Ingat * Pikir Kurikulum dibagi 2 1. Kurikulum terstruktur Mtk, ipa 2. Kurikulum tdk terstuktur Mananam, kunjungan. 3. Sosial (akhlak) Kemampuan untuk menyikapi perbedaan. Akademik : mempelajari ilmu yg struktur
di Pakistan kegiatan Menghafal Al - Qur'an & puisi. Kurikulum : track ( satu orang melalui satu track/ satu orang satu pengalaman.

Parenthood

Sabtu, 12 Agustus 2017 Ustd.Ferous Tumbuh kembang : 1. * Motorik kasar * Motorik halus 2. Komunikasi (akhlak) * Aktif * Pasif # Kosa kata ( semua benda ada nama) stimulus komunikasi. #Menjelaskan lemari itu yang ada pintunya, yg tidak ada pintunya itu rak. # Tumbuh kembang pasif mempengaruhi komunikasi aktif 3. Kognitif * Daya tangkap * Ingat * Pikir Kurikulum dibagi 2 1. Kurikulum terstruktur Mtk, ipa 2. Kurikulum tdk terstuktur Mananam, kunjungan. 3. Sosial (akhlak) Kemampuan untuk menyikapi perbedaan. Akademik : mempelajari ilmu yg struktur Pakistan kegiatan Menghafal Al - Qur'an & puisi. Kurikulum : track ( satu orang melalui satu track/ satu orang satu pengalaman.

Senin, 31 Juli 2017

Gurun hijau

Yacouba sawadogo adalah pemuda yang ingin melakukan sesuatu yg dianggap orang" tidak bisa/mustahil.
Ia sangat yakin bisa mnjadikan gurun pasir mnjadi hijau, yg mungkin orang-orang fikir ini adalah hal yg mustahil, tetapi ia tidak memikirkan hal itu, yg ia pikirkan adalah berupaya memahami keadaan setempat, berfikir dan berusaha untuk bisa menjalankan idenya.
meski semua orang menggapnya gila, tetapi ia pantang menyerah.
cerita lengkapnya di flmnya
The man who stopped desert

hikmah :
Yakinlah dengan apa yg kita ingin lakukan selama perbuatan tersebut bermanfaat untuk semua.

Yang saya ingin terapkan ke siswa SD, kita harus menyakinkan mereka bahwa kita harus bisa yakin menjalankan  ide" kita yg bisa bermanfaat untuk semua. dan sebaik- baiknya manusia adalah yg paling bermanfaat untuk yg lainnya.
Ryan suciani
31/07/17

Dunia sekolah

Sekolah adalah tempat yg menyenangkan bagi anak, tetapi miris ketika mendengar ada sebagian anak menganggap sekolah tempat yg menegangkan & menakutkan, sampai ada anak yg takut & malas masuk sekolah.
hal ini perlu di perhatikan karena anak" adalah generasi penerus bangsa.
hal yg terpenting dalam sekolah adalah meciptakan kesenangan tersendiri untuk anak dan tidak membebankan mereka, apabila mreka senang, maka mereka tidak perlu di suruh lagi untuk sekolah, malah mreka akan bersemangat untuk sekolah.
sekolah harus bisa menempatkan anak"  pada fitrahnya, menyenangkan, tidak terbebani,l. namun mereka tetap mendapatkan ilmu dari kehidupan sehari" & menyatu dengan alam, mensyukuri bahwa Allah mnciptakan semuanya tidak ada yg sia -sia.
Ryan Suciani
31/07/17